Latest Entries »

teringat beberapa bulan yang lalu, pengalaman yang berkesan… beberapa terbingkai dalam kamera..

next : 15th Ottawa conference
Assessment of competence
in Medicine and the healthcare Professions

9-13 March 2012
Kuala lumpur Convention Centre
Malaysia

register online at http://www.ottawaconference.org/

1< 3 1 177 4 17 4 17

Dengan pengetahuan yang masih sedikit seseorang mencoba memaknai kata keimanan. Menurutnya….

Keimanan itu, ada pada subuh berjama’ah berlari menempuh rinai menuju mesjid. Ada pada pikiran yang selalu penuh dengan dakwah dakwah dakwah. Agar bagaimana dan apapun kondisinya keberadaan harus punya makna, harus ada pesan dakwah yang disampaikan meski dengan diam.

Keimanan hadir pada sepertiga malam yang tidak biasa. Tidak seperti biasanya yang hanya dilalui dengan dua raka’at penuh kantuk. Keimanan yang dirindu, pada bulir bulir yang mengairi pipi yang tak kuasa menahan sedih akan waktu yang sia sia.

Keimanan larut dalam hati yang tergetar dan terkuatkan oleh firmanNya, yang mudah tersentuh, yang menjadi tenang karena dzikir padaNya.. Allah azza wa jalla..

Keimanan itu dihati, peluklah erat agar petunjuk Allah dan naungannya selalu ada membuat hidup ini sangat kaya.
sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surge yang penuh kenikmatan, mengalir dibawahnya sungai- sungai” (QS: Yunus: 9)

Nb: Iman itu dihati, bisa diperoleh sendiri.. (setahu ku tidak bisa dicuri).. jadi tenang saja.. segera Miliki, nikmati dan jaga..

Symposium TEMILNAS 2011

ayo segera daftar……………

apalah ini?

Memaafkan adalah memberikan sedikit ruang pada rasa benci. Seseorang pernah berkata seperti itu. Mungkin ada benarnya. Rasa tidak suka muncul dalam ekspresi, feedbacknya adalah permintaan maaf lalu memaafkan. Rasa suka hadir dalam penghargaan dan pujian pada Allah swt atas nikmatnya rasa senang. Suka dan tidak suka bergulir cepat, mungkin beberapa menit yang lalu tidak suka, tapi sekarang bisa sangat menyukainya. Dan anehnya, ini terkadang terjadi pada objek/ orang yang sama. Pada akhirnya saya tunduk pada suatu kesimpulan, kenapa kita suka dan senang? Karena belum tampak keburukannya yang membuat kita tidak suka. Dan kenapa tidak suka dan benci? Ya tentu karena belum tampak kebaikan kebaikannya. Jadi ketika ada yang tidak kita suka, berikanlah sedikit ruang untuk(memaafkan)nya karena mungkin ada kebaikan kebaikannya yang belum kita ketahui.

Es kelapa muda Sabrina.

ditengah padatnya aktivitas, ada kisah kisah yang cukup bermakna membuat diri ini lebih banyak bersyukur.
diantaranya tentang es kelapa muda sabrina, kenapa ini jadi istimewa? mungkin yang kenal dengan sabrina dengan keberagamannya (dalam semua segi) bisa merasakannya.

Ini bukan es kelapa muda biasa, warnanya merah bergradasi hingga bening keatasnya. Cantik sekali. Ada parutan kelapa dan nata de coco. Asam, manis dan segeeerrr…

Walaupun sudah biasa mendengar nama dan mencicipi es ini. Agaknya es kelapa muda ini ada poin plusnya. Selain rasanya yang sudah dijelaskan diatas, ada makna yang tersembunyi diambil dari es yang murni berasal dari kelapa ini.. terlihat sangat cantik dengan ragam bentuk dan warna merah dan putih. Taukah ukhti, semua ragam bahan yang ada di es ini berasal dari kelapa. Sirupnya rasa kelapa, ada air kelapa, ada nata de coco yang pastinya terbuat dari kelapa, dan terakhir ada parutan kelapa muda. (sebenarnya sangat sederhana dan murah meriah..)

Mungkin analogi ini terlalu memaksa… Semua akhwat, yang datang dan memutuskan tinggal di wisma punya keinginan dan fitrah yang sama, tapi hadir dalam bentuk yang berbeda beda. Ada yang datang dalam bentuk sirup, ada juga dalam bentuk nata de coco dan juga parutan kelapa asli. Mungkin ketika diliat dari bentuknya mereka beda beda dengan segala karakter, tapi sebenernya ketika di telik asal usul, fitrahnya, keinginannya… sama.. subhanallah… dan bahan bahan tadi bisa bersatu dalam sebuah gelas memberi keramaian, keragaman dan keceriaan….sangat hidup dan tidak membosankan. Semuanya juga bersatu di Sabrina, kita hadir dalam bentuk yang berbeda beda tapi… fitrah dan keinginan kita sama. So berlapang lapanglah, raih berjuta kebaikan, berikan manfaat di keunikan rasamu.. Hmm menyegarkan…

Syukrn Sabrina dan semua wsma FK, trimakasih telah menjadikan ku bagian dari keindahan ini.

KALAU kita pernah mengatakan tentang pentingnya ilmu atas amal
dalam berbagai urusan agama, maka kita sekarang ini menegaskan
mengenai pentingnya ilmu dalam urusan-urusan dunia.

Kita hidup sekarang ini pada zaman yang segala sesuatu
didasarkan atas ilmu pengetahuan. Pada zaman kita sekarang ini
sudah tidak lagi menerima hal-hal yang tidak teratur dan
mengawur dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan kehidupan
dunia.
View full article »

Kita dan Mereka

Menjelang mukhoyyam;

‘maaf, saya ada agenda keluarga keluar kota.’
‘Apa tidak bisa ditunda?’
‘Soalnya besuknya juga ada acara lagi.’
‘Tapi ini kan mukhoyam sapu jagad akh?’
‘iya, habis gimana ya….’
tetap tidak bisa

kadang2, kita menumukan kondisi diatas.
atau saat liqa

‘liqa sdh mulai ini. antum dimana?’
kali ini sms
‘maaf pak, saya masih kecapekan pulang kerja
izin dulu.’
capek. Bisakah jadi alasan..?

atau saat rapat

‘akh, katanya antum kemarin ngga datang
saat rapat abis shubuh?
katanya cuma DPC kita yg ngga ada wakilnya?’
‘afwan akh, kemarin itu hujan deras abis shubuh.
makanya saya ngga bisa berangkat.’
‘hujan deras? bukannya antum punya jas hujan?
antum pernah ngga lihat saya ngga adatang karena hujan.
bukankah rumah saya lebih jauh dari antum?’
tak ada tanggapan.
Hujan. akankah jadi penghalang…?

soal alasan, kita memang suka mencari-carinya.
apalagi kalau murabbi atau pembina mudah ngasih izin
dan dari pengalaman tak pernah ada masalah dengan izin
tak ada iqab atau amarah dari atas

kitapun menikmati ‘izin’ yg diberikannya.
Tetapi, apakah dihadapan Allah masalahnya juga ‘selesai’?
View full article »

Saya Terharu

Islamedia:Pesawat Garuda GA 162 dari Padang, mendarat mulus di Bandara Soekarno Hatta, Senin (13/12). Saya dan istri ada di pesawat yang sama. Kami yang duduk di bagian ekonomi, tak tahu persis siapa saja gerangan yang duduk di kelas eksekutif.

Perjalanan 90 menit setelah selesai, kami harus bergegas untuk urusan masing-masing. Di antara yang bergegas itu, ada Gubernur Sumbar, Prof. Irwan Prayitno.

Para penumpang kelas eksekutif dijemput dengan mobil khusus, namun karena Irwan duduk di kelas ekonomi, maka naik buslah ia bersama-sama kami. Bergelantungan. Apa adanya.

Menurut saya ada gubernur di Indonesia yang duduk di kelas ekonomi dalam sebuah penerbangan adalah istimewa. Mungkin bagi orang lain tidak.

Gubernur Irwan terlihat oleh istri saya melangkah ke ruang ekonomi. Di sini rakyat badarai memilih tempat duduk, sesuai kemampuan keuangan masing-masing. Tidak seorang pun di antara kami yang akan berkecil hati, jika Irwan Prayitno, duduk di eksekutif, sebab ia gubernur. Kami bangga kalau gubernur duduk di kursi yang nyaman.

Namun saya tak percaya, kenapa ia melangkah ke ruang rakyat ini. Saya dan istri duduk di kursi 5 AB, Gubernur Irwan justru lebih ke belakang lagi, 12 C. Kami berbasa-basi sejenak, lantas Irwan meluncur ke belakang, tenggelam di kursinya.

Saya sudah lama juga hidup, sering naik pesawat bersama banyak orang dari pejabat tinggi hingga orang biasa. Bagi saya ada gubernur rendah hati seperti ini, menjadi obat. Ia tak berjarak dengan rakyat. Ia tampil apa adanya.

Begitulah ketika Garuda mendarat di Cengkareng, kami tak bisa pakai pintu garbarata, sehingga harus dijemput pakai bus besar. Semua penumpang kelas ekonomi naik ke sana. Juga Gubernur Sumbar.
Bersama kami, ia berdesak-desakan dan bergelentungan. Bagi saya ini memang luar biasa, ketika para pejabat kita merasa risih duduk di kelas ekonomi. Bagi saya ini juga sebuah keteladanan, ketika di banyak bandara, ada lahan parkir khusus untuk pejabat, persis di mulut pintu kedatangan.

(Taufiq Ismail)
* * *

Saya terdiam cukup lama membaca tulisan diatas. Perasaan terharu dan bangga pada sosok pemimpin ini. Mungkin kita telah lama tau, kisah-kisah pernah menuliskan nama rasulullah Muhammad saw, para khalifah sesudahnya dan umar bin abdul aziz sebagai sosok yang sederhana dalam kepemimpinananya. Agak sulit memang merefleksikannya dimasa sekarang. Mencari pemimpin yang dicintai karena kesederhanaannya.

Suatu ketika Air mata Umar bin Khaththab meleleh. Umar mendapati rasulullah tengah berbaring di atas sebuah tikar usang yang pinggirnya telah lapuk. Jejak tikar itu membekas di belikat beliau dan sebuah bantal yang keras membekas di bawah kepala beliau. Ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi pimpinan tertinggi umat Islam itu. Rasulullah SAW melihat Umar r.a. lalu bertanya “Apa yang membuatmu menangis, Ibnu Khaththab?”

Umar menjawab , “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas di belikat Anda, sedangkan aku tidak melihat apa-apa di lemari Anda? Kisra dan Kaisar duduk di atas tilam dari emas dan kasur dari beludru dan sutera, dan dikelilingi buah-buahan dan sungai-sungai, sementara Anda adalah Nabi dan manusia pilihan Allah!”

Lalu Rasulullah SAW menjawab dengan senyum tersungging di bibir beliau, “Wahai Ibnu Khaththab, kebaikan mereka dipercepat datangnya, dan kebaikan itu pasti terputus. Sementara kita adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?”
Umar menjawab, “Aku rela.” (HR. Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad)

Dan ketika umar menjadi khalifah, alangkah mulianya pribadi Umar bin Khaththab yang membuat peraturan untuk para gubernurnya:
1. Jangan memiliki kendaraan istimewa
2. Jangan memakai pakaian tipis (halus dan mahal harganya)
3. Jangan mengkonsumsi makanan yang enak-enak
4. Jangan menutup rumahmu bila orang memerlukanmu
Semua itu dimaksudkan agar para gubernur dapat merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat yang dipimpinnya.

Sebagai umat islam, sudah seharusnya kita berkaca pada kesederhanaan Rasullullah dan para sahabat dalam memimpin.

Kita juga mengenal Ahmadinejad, sosok pemimpin iran yang juga sangat sederhana dan merakyat ( sangat dekat dengan rakyatnya). Ia membuat sebuah kebijakan tentang Pesawat Terbang Kepresidenan, Mahmoud Ahmadinejad mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat sedangkan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.
Inilah makna merakyat dalam konteks yang sebenarnya (karena menurut saya kata ‘merakyat’ sudah mengalami pendangkalan makna. Aksi ‘merakyat’ yang selama ini kita kenal adalah berkunjung kerumah-rumah penduduk bersama media, membagikan sembako, dan segala rutinitas pada masa kampaye yang sering kita liat dilayar kaca).

ahsanu ‘amala

Lagi lagi ini bukan seberapa banyak amanah yang kita miliki
Bukan hanya seberapa sering agenda-agenda dakwah kita hadiri
Tetapi seberapa banyak beban dakwah yang telah kita kurangi
.
.
Karena jalan ini begitu panjang untuk dilalui
Mari berbenah, siapkan yang terbaik

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.